Belajar Menggapai Langit Blog

April 6, 2013

Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?

Filed under: Umum — Mugito Guido @ 2:28 pm

menulis muhammadnoerTema tentang menulis selalu diangkat ke permukaan. Artinya, setiap hari ada saja tulisan yang mengulas mengenai ilmu menulis. Dari semua itu kalau boleh disimpulkan, memberikan motivasi bahwa selama kita mau, menulis itu tidaklah susah. Penulis kawakan, Arswedo Atmowiloto sendiri membukukan kiat menulisnya, dalam buku  ‘Mengarang Itu Gampang’. Benarkah demikian?

Dalam kenyataannya, ketika kita ingin menuliskan apa yang ada dalam pikiran kita sering merasa tidak gampang. Mungkin saja pada saat kita melihat sesuatu yang membangkitkan ide untuk ditulis,  kita begitu bersemangat. Langsung bergegas mengambil kertas dan pena, menyalakan komputer atau laptop kita dan ingin mulai menulis. Menuliskan ide kita itu agar tidak terlewatkan.

Namun apa yang terjadi saat tangan ini sudah memegang pena atau siap di atas tuts keyboard? Bisa jadi bukanya tangan kita yang menuliskan kata-kata, tapi justru menggaruk-garuk kepala kita padahal kepala kita tidak terasa gatal. Mungkin juga kita akan segera meninggalkan kertas atau mematikan komputer itu tanpa pernah menuliskan sebuah kata apapun. Ataupun, mungin kita hanya mampu menuliskan sebuah paragraf saja dengan begitu banyak coretan di sana-sini. Kalau kita menulis dengan komputer, dalam satu paragraf itu kita sangat sering menekan tombol ‘delete’.

Lantas kita meninggalkan tulisan satu paragraf yang tak sempurna itu sambil pergi dan berguman, “uuuh… ternyata menulis itu tidak gampang”. Ya, siapa bilang menulis itu gampang?

Ya, Arswendo atau pun para penulis yang sudah menelorkan banyak tulisan itu memang bilang bahwa menulis itu gampang. Namun maksudnya barangkali lebih kepada sebuah motivasi, kiat, atau pun ajakan untuk menggalakkan dunia penulisan. Selama kita mau mau terus belajar, menulis itu lama-kelamaan akan menjadi pekerjaan yang mudah. Ini yang perlu digarisbawahi: terus belajar dan melalui sebuah proses! Jadi, tidak ada tehnik menulis yang segampang menggosok lampu Aladin.

Kalau kita punya tepung terigu, gula, garam, soda kue dan beberapa irisan daging di rumah, itu bukan berarti kita memiliki pizza yang lezat. Kita mesti mencampur bahan-bahan itu menurut cara dan takaran tertentu. Selanjutnya kita perlu menyiapkan sebuah oven dan menyalakan kompor dengan mengatur nyala apinya yang tak terlalu besar dan juga tak terlalu kecil. Barulah adonan itu kemudian berubah menjadi pizza yang lezat.

Untuk pizza pertama yang kita buat, hampir dipastikan hasilnya tidak seenak pizza dari Pizza Hut orang Italiano itu. Mungkin saja pizza pertama kita akan terasa keras, keasinan dan sedikit gosong di bagian bawahnya. Kalau kita menyerah sampai di sini, maka selamanya tika tidak lebih dari sekedar pembuat pizza gosong. Sebaliknya, bila kita terus belajar bagaimana membuat pizza yang baik, tidak tertutup kesempatannya pizza kita yang Indonesiano itu akan menggeser pizza Italiano.

Seperti halnya membuat pizza yang enak, menulis pun memerlukan banyak latihan dan memerlukan proses yang panjang . Bukan sebuah sulapan instan.

Ide-ide yang tak terbatas tidak cukup disimpan dalam rak-rak otak kita. Kita perlu mengekspresikan dalam bentuk tulisan. Tulisan yang bukan sekedar sebuah tulisan, tapi tulisan yang mempunyai cita rasa. Tulisan yang bisa dinikmati dan dipahami secara mudah oleh pembaca, sekalipun memberikan manfaat bagi mereka.

Nah, ini yang perlu ilmu dan tehnik. Ilmu dan ketrampilan menulis tidak bisa terlepas dari membaca. Keduanya ibarat dua sisi yang tak terpisahkan yang membentuk selembar uang. Seorang penulis harus mempunyai wawasan yang luas, dan itu hanya dapat diperoleh melalui membaca. Bila kita bermimpi menjadi penulis tetapi malas membaca,  maka kita hanyalah seorang kerdil yang menulis.

Menulis yang baik juga tidak terlepas dari keharusan menguasai bahasa yang baik dan benar. Kepiawaian kita dalam hal kosa kata, mengolah struktur kalimat, ejaan, termasuk gaya bahasanya. Kalau dalam hal membuat pizza, barangkali ini resep yang harus diikutinya.

Itu semua tidak cukup. Ada lagi yang harus dilakukan : banyak latihan!

Sayangnya, saat ini banyak orang yang ingin dijuluki penulis tetapi tidak mau belajar ala orang membuat pizza itu. Maunya jadi penulis tenar namun enggan belajar bagaimana menulis. Tentu saja mereka ini tidak pernah akan bisa menulis hebat.

Lebih memprihatinkan lagi, ada orang yang bermimpi bisa menulis melalui jalan pintas. Tak mau bersusah-susah karena memang menulis itu susah. Yang terjadi kemudian adalah sebuah plagiarisme, menjiplak tulisan orang lain yang diakui sebagai miliknya. Istilah populernya, orang yang melakukan copas, meng-copy dan mem-paste tulisan orang dan dengan bangganya mengakui karya itu sebagai tulisannya.

Nah, plagiat bukanlah seorang penulis. Ia hanyalah seorang anak kecil yang mencuri Italiano pizza dan dengan bangga bilang kepada teman-temannya bahwa ia telah pintar membuat pizza.

Ada teori yang menyarankan agar bisa menulis, tulislah apa saja. Benar, itu tidak salah! Mungkin yang dimaksud tema apa pun bisa tulis. Tujuannya agar kita mempunyai banyak kesempatan untuk belajar. Ya, seperti orang membuat pizza tadi, semakin banyak belajar semakin enak pizza yang kita buat.

Namun demikian, dalam menulis kita tetap harus memperhatikan tehnik bagaimana menulis yang baik. Baik itu dilihat dari segi isi tulisan, tehnis maupun unsur-unsur kebahasaan. Unsur non-tehnis yang juga tak bisa dilupakan adalah pikiran sehat, hati dan budi.

Ada ungkapan, ‘anda adalah apa yang anda tulis’. Kalau boleh diartikan,  tulisan kita merupakan cerminan apa yang kita pikirkan. Kalau pikiran kita jorok, mungkin hasil tulisan kita pornografi. Kalau yang ada alam pikiran kita bagaimana membuat orang sengsara, mungkin juga tulisan-tulisan tak lebih hanyalah serangan-serangan yang membuat orang lain sakit hati. Sebaliknya kalau kita selalu berpikir positif, tulisan kita adalah ekspresi maksud baik kita terhadap sesama.

Menulis juga harus mempunyai tujuan jelas. Menulis demi sebuah kebaikan. Bermanfaat bagi orang lain. Apabila orang lain dapat memperoleh manfaat dari apa yang kita tulis, bukankah itu sebuah amal baik? Satu-satunya yang bisa kita bawa ketika kita mati?

Selamat menulis!

Mr, 05 April 2013

gambar dari : muhammadnoer.com

Maret 19, 2013

Is it true that English Is Easy?

Filed under: Tips Bahasa Inggris,Umum — Mugito Guido @ 1:31 pm

English liveinternet ru
Personally, I dare to say ‘yes’. This statement may be agreeable to certain people, but it is not always so to the others. Even, for those who are concerned in this language, it is not one hundred percent acceptable. As a matter of fact, we still find many comments on some blogs or somewhere else, complaining that learning English is not as easy as saying it. Thus, there must be a thorough study why people say that learning English is easy and – at the other hand, some still adhere to the belief of the fact that learning English is not easy.
The experience of learning English, which will then render a judgement that English is easy or difficult, will much depend on our initial perception of English itself. If, at the first step to commence learning we judge that English is easy, this perception will then come true. In learning process, we would find everything smooth in the line of our first perception. Everything looks like running on its own track.
It is reasonable as usually ones with good perception of English will have greater motivation and almost do anything to understand the language. In the contrary, if at the first step we judge English as difficult subject to learn, it is most likely that we will be facing difficulties everywhere. The reason is that how comes ones with no interest of the subject will enjoy learning.

Our first perception of English learning is very important as it will outline us to easy side or the difficult side of learning. Although it is true that our good perception is so important, as it will then render us to which side we will be, but it is not enough. Language skills do not derive from a dream. Nor, do they come from a hope. It is not enough to only have a good initial perception of English leaning and revealing a hope. To have adequate capability, we have to struggle to ‘conquer’ this foreign language.
From this fact, we should be wise enough in seeing the term of ‘easy’ itself. ‘Easy’ means not difficult to learn with subsequent enforcement to achieve the utmost result. It does not have the same meaning with just saying it’s easy. It is the wide opportunity to reach the best thing with willingness, efforts, and struggle.
So, is there any spectacular method to grab the instant result of learning? Linguists have proposed many methods of learning. In fact, all of them are good ways of learning. The most important thing is that how we can pick out one that most suits our style of learning. A method that is fairly good to someone is not always suitable for others.
A good method will not impact us with good result unless we apply it to our learning. A method just supports the learning and our motivation will be taking the greatest part of the success. To my personal opinion, there is no instant method to grab the instant success of learning, as proficiency of English is coming from the process of successive learning.
Anyhow, we should not be pesimistic with such a long process of learning, as the proficiency will be automatically coming in the line with the process. For example, today we are more proficient since we are learning more and, thus, we get more than we what did yesterday.
There should be no longer reasons to think that learning English is difficult and now it is time to get started. Here are some hints as a summary of the above discussion that may be valuable to encourage learning:
• Learning is just a matter of our willingness to do so, with our high motivation and concern.
• Say that English is easy when you have decided to start learning, and unbelievably, you will find everything is easy.
• The most difficult thing is how to get it started, so do not blame that English is difficult any longer.
• Starting to learn means starting to gain the result, so do not wait the result until the end of the learning. You will have got it when you start. In fact, learning will never end up.
• Language skills are coming from a process, the more practices you have, the better language skills you get.
To end the writing, let me again remind you that learning English is easy. Of course, it is not like Aladin with his magic lamp that can change anything coming true in a few minutes. This will require our utmost concern, struggle and efforts. Anyhow, one thing is certain: We can!
Let’s start learning English now!

picture : from shutterstock

Nilai Sebuah Kejujuran

Filed under: Motivasi,Umum — Mugito Guido @ 1:22 pm

kaleng blogbintang
Billy Ray Harris kaget melihat ada cincin dalam kaleng tempat uang miliknya. “Pastilah cincin ini asli dan nilainya sangat mahal,” pikir pria tuna wisma di Kansas, Amerika Serikat ini. Billy memang orang miskin, tapi ia memegang nilai kejujuran. Ia menyimpan cincin itu baik-baik.

Keesokan harinya, seorang perempuan bermana Sarah Darling datang ke tempat Billy mangkal. Ia menanyakan kalau-kalau Billy melihat barangnya yang hilang.
‘Apakah itu sebuah cincin?” tanya Billy.
‘Ya,” jawab Sarah.
“Saya masih menyimpannya.”

Sarah tidak menyangka cicin tunangan yang hilang itu akan kembali. Rupanya sebelumnya, ia melepas cincin itu dan menaruhnya di tempat uang koin di rumahnya. Ketika ia memberi Billy beberapa keping uang koin, cincin ikut terambil dan masuk ke dalam kaleng juga.

Sarah sangat senang. Ia menganggap kembalinya cincin itu sebagai sebuah keajaiban. “Ternyata masih banyak orang baik di luar sana,” katanya. Ia kembali memberikan semua uang yang ada dalam dompetnya.Tidak itu saja yang dia lakukan. Sebagai bentuk keharuan, ia membuat sebuah situs untuk menggalang donasi. Hasilnya, 6000 orang mengumpulkan uang sekitar $145.000 atau hampir 1.5 milyar rupiah untuk Billy.

Ketika ditanya mengapa Billy tidak menjual saja cincin mahal itu, ia menjawab, “Kakek saya seorang pendeta. Dia membesarkan saya sejak saya berusia enam bulan. Dan saya masih ingat semua ajarannya.” (Sumber : Kompas.com / The Daily Telegraph)

Ada dua hal yang menarik dari peristiwa ini. Pertama. ‘ternyata masih banyak orang baik di luar sana’ seperti yang dikatakan Sarah Darling. Kedua, pernyataan Billy Ray Harris tentang ‘ajaran agama dari kakeknya yang masih terus ia ingat’ .

Sekarang ini memang semakin sulit menemukan ‘orang baik’ di dunia ini. Dalam konteks ini, diartikan sebagai orang jujur. Setidaknya, itulah anggapan subyektif dari sebagian besar kita.

Hedonisme, sifat ingin hidup enak tanpa bersusah-payah sering mendorong orang untuk mengabaikan kejujuran. Mendapatkan apa yang diinginkan dengan jalan pintas, tak peduli apakah jalan itu baik atau buruk. Menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisinya, tak peduli apakah cara itu telah merampas hak dan kepentingan orang lain atau tidak. Yang penting saya dapat!

Perbuatan tidak jujur bukan hanya semacam korupsi seperti saat ini. Atau, kong kalikong dan nepotisme untuk memperoleh keuntungan pribadi atau kelompok tertentu. Sering bibit-bibit ketidakjujuran itu ada sejak dari keluarga, sekolah dan berlanjut di masyarakat.

Ketika orang tua justru mengajarkan menyontek (meskipun sedikit-sedikit) demi nilai yang bagus, mereka sudah membekali anak dengan ketidakjujuran. Ketika sekolah telah merekayasa cara agar nilai Unas di sekolahnya tidak jeblok, guru telah mengajarkan ketidakjujuran. Ketika masyarakat mengusir keluarga yang melaporkan kecurangan Unas, masyarakat sudah membenarkan ketidakjujuran. Ketidakjujuran/kecurangan bukan sebutir kerikil yang mati, kecurangan adalah sebiji sawi yang akan berkembang oleh pengaruh lingkungan yang mendukungnya.

Lebih parahnya, sering perbuatan tidak jujur itu tidak dilakukan secara pribadi atau segmental. Banyak kecurangan dilakukan secara kolektif dalam sebuah sistem. Tujuannya untuk mengaburkan atau mengkamuflasenya. Sebagian besar korupsi tidak dilakukan seorang diri. Korupsi dilakukan secara kolektif dan sistematis agar tidak mudah orang mengendusnya.

Fenomena di atas setidaknya patut diduga menjadi alasan semakin sulitnya menemukan orang jujur/orang baik.

Billy tidak menyimpan begitu saja ajaran agama yang diterima dari kakeknya. Ia juga tidak sekedar mengingatnya, Lebih dari itu, ia malaksanakannya. Dan ini adalah yang paling penting!

Pendidikan agama pasti mengajarkan sebuah kejujuran, membendung kecurangan. Tapi agama tidak dapat mencegah ketidakjujuran. Yang bisa hanya satu : pelaksanaan ajarannya!

Jadi tidak mengherankan kalau Departemen Agama pernah menduduki ranking pertama dalam hal korupsi. Tidak aneh pula kalau pengadaan Al Quran juga dikorupsi. Mengapa? Karena departemen yang mengurusi keagamaan itu diisi orang-orang beragama tapi hanya sedikit yang mengamalkan ajaran agamanya. Tidak ada bedanya dengan instansi di bawah Departemen Keuangan yang memang mengurusi uang.

Ada pepatah Jawa yang bunyinya, ‘saiki iki jaman edan, nek ora edan ora kemudan. Nanging, sak enak-enake sing edan luwih bejo sing eling lan waspada’. Artinya, ‘sekarang ini jaman edan, kalau tidak ikut edan/gila tidak kebagian. Namun, seuntung apapun mereka yang edan/gila lebih untung
yang tetap sadar dan waspada’.

Yang jujur tidak hidup seenak mereka yang korupsi, tapi yang jujur masih tetap lebih untung dari pada koruptor. Di akhir hidup kita nanti, kita tidak akan membawa segebok uang kepada Tuhan, yang kita bawa hanyalah amal yang telah kita perbuat.

Salam

gambar dari: blogbintang

Kenali Gaya Sosial Istri Anda

Filed under: Umum — Mugito Guido @ 1:00 pm

istri marah

Anda saat ini sedang memutuskan untuk bercerai dengan istri Anda? Atau, paling tidak sedang pusing karena sikap istri Anda yang menjengkelkan sehingga hampir setiap hari berantem dengan istri? Stop! Sebaiknya Anda berpikir banyak kali sebelum cerai yang Anda pikirkan itu benar-benar terjadi, atau kehabisan energi gara-gara bertengkar terus dengan istri tiap hari. Mungkin saja penyebabnya hanya hal-hal sepele yang tidak Anda kenali.

Jono sudah tiga bulan ini memilih kost di dekat tempat kerjanya. Ketika ditanya alasannya mengapa ia memilih indekost, padahal lima tahun sudah ia pulang-pergi ke kantor yang jaraknya 20 kilometer itu, jawabannya karena capai. Selidik punya selidik, ternyata ia sedang pusing karena sikap istrinya yang sok kuasa. Sebagai kepala keluarga, Jono merasa kehilangan harga diri. Jono merasa sudah tidak tahan lagi hidup bersama dalam sebuah keluarga. Ia menghindari ‘neraka’ di rumah dengan memilih indekost.
Selama setahun pertama masa perkawinan, sifat istrinya yang sok kuasa itu tak begitu nampak di mata. Mulai tahun kedua sampai tahun kelima Jono berusaha mentolerir sikap istrinya, tetapi saat ini Jono merasa tak tahan lagi. Akibatnya pertengkaran-pertengkaran hampir setiap hari terjadi. “Seandainya saya tidak berat di anak, saya sudah cerai dulu-dulu”, gerutu Jono suatu hari di jam istirahat kantor. “Tetapi karena sudah tak ada kecocokan lagi, yah apa boleh buat. Jalan terbaik cerai!” lanjut Jono menumpahkan kekesalannya.
Kasus rumah tangga di atas memang tidak jarang terjadi. Ada tembang Jawa yang salah satu penggalan syairnya kira-kira berbunyi: wong akrama iku kena pisan luput pisan (orang berumah tangga itu hanya dua kemungkinannya, berhasil atau gagal).

Jadi, kalau perkawinan Anda saat ini sedang dalam perjalanan ke arah “kegagalan” itu, ada baiknya diteliti kembali penyebab-penyebabnya. Sering kali penyebab itu timbul karena kita tidak mengenali gaya sosial pasangan kita dan egoisme kita yang menyumbat saluran komunikasi.
Setiap orang mempunyai tipe gaya sosial yang berbeda-beda. Ada 4 (empat) tipe gaya sosial, yaitu:
1. Tipe gaul (tipe kijang)
Ciri-ciri tipe gaul ini: orientasi ke depan, optimis, energik, suka hal-hal baru, menyukai model, mudah bergaul, supel, banyak teman
Kekurangannya: tidak disiplin, suka maunya sendiri, sering kurang perhitungan, gampang bosan
2. Tipe penguasa (tipe macan)
Ciri-ciri: orientasi pada hasil, ingin menjadi penentu keputusan, pendiriannya kuat
Kekurangannya: maunya menang sendiri, sulit menerima saran, arogan, ingin dominan, sulit bekerja sama
3. Tipe pemikir (tipe kancil)
Ciri-ciri: orientasi ke masa lalu, teliti, mementingkan data-data yang sudah ada, penuh perhitungan
Kekurangannya: terlalu takut akan resiko, selalu banyak menghitung untung rugi sehingga rencana tak pernah mulai, kurang sosialisasi, agak tertutup
4. Tipe harmoni (tipe panda)
Ciri-ciri: orientasi pada masa lalu- mas sekarang-masa depan, mudah bekerja sama, tenggang rasa, toleransi, pribadi menyenangkan.
Kekurangannya: sulit menolak, tak bisa berkata “tidak”, kurang tegas mengambil keputusan karena terlalu banyak minta pendapat orang lain.
Tentu saja tidak ada orang yang benar-benar masuk dalam salah satu tipe di atas. Biasanya setiap orang mempunyai gaya campuran dua tipe. Namun demikian campuran gaya itu umumnya terjadi antara tipe gaul dengan tipe kuasa dan tipe pemikir dengan tipe harmoni.
Manakah dari keempat tipe gaya sosial itu yang terbaik? Semua sama baiknya. Dengan demikian, masuk tipe mana pun istri Anda, ia sama sekali tidak jelek. Anggapan bahwa ia tidak baik dan menjengkelkan, semata-mata karena mungkin kita kurang mengenal siapa dia sebenarnya.
Setelah Anda mengenali gaya sosial istri Anda, maka sikap yang diambil adalah proaktif-fleksibel. Artinya kita aktif untuk mengenali sifat-sifat istri dan bersedia menyesuaikan diri kita dengan gaya sosialnya. Tentu saja agar masing-masing pihak bisa saling menerima gaya sosial masing-masing, perlu diperlancar adanya saluran komunikasi. Tidak malahan mengambil jalan berlawanan dengan mempertahankan egonya masing-masing.
Sebagai contoh, bila mempunyai istri gaul yang gemar mengajak shopping tiap hari, ada baiknya diajak bicara agar shopping itu sebaiknya dilakukan setiap akhir pekan. Dengan menyampaikan alasan-alasan yang masuk akal niscaya saran itu akan bisa diterima. Dengan demikian pula, dicapailah kesepakatan yang saling menguntungkan sehingga perceraian tidak perlu terjadi dan ‘neraka’ di rumah akan berubah menjadi ‘surga’.
Kesimpulanya: kenali – komunikasikan – sepakati solusi.

gambar: smaslah.wordpress.com

Juli 11, 2011

Ayo Menulis!

Filed under: Umum — Mugito Guido @ 6:26 pm

Pernahkah anda mendengar “Romeo dan Juliet”? Sebagian dari anda mungkin pernah, yang lain mungkin tidak. Kalau toh anda pernah dengar, apaan tuuuhhh?!!

Romeo dan Juliet adalah salah satu drama terkenal dari banyak karya besar pujangga Ingrris, William Shakespeare, yang hidup pada tahun 1564 – 1616. Ya, Shakespeare memang seorang penulis legendaris Inggris yang karyanya dikenal di seluruh dunia. Namanya masih tetap dikenang berabad kemudian oleh karena hasil tulisannnya.
(more…)

Juni 27, 2011

Tahun Ajaran Baru, Kebutuhan Baru!

Filed under: Umum — Mugito Guido @ 7:31 pm

Di kalangan dunia pendidikan, tidak ada saat yang paling sibuk selain saat-saat pertengahan tahun. Mengapa? Karena mulai bulan Maret, kelas 6 (SD), kelas 9 (SMP), dan kelas 12 (SLA), sudah sibuk dengan mempersiapkan apa yang kita kenal dengan Unas (Ujian Nasional). Walau pun sempat menjadi pro dan kontra, unas, paling tidak sampai tahun ini, tetap dijadikan sebagai tolok ukur dalam menentukan kelulusan atau keberhasilan belajar siswa. Tidak mengherankan, apabila kesibukan pertama setiap sekolah adalah mempersiapkan siswanya agar lulus unas. Kalau bisa, 100 persen!
(more…)

September 10, 2009

Agar Pelanggan Senang Berbelanja di Toko Anda

Filed under: Umum,Wira Usaha — Mugito Guido @ 6:00 pm
Tags: , ,

Mereka yang membuka usaha toko atau butik tentunya memerlukan kiat tertentu agar pembeli mempunyai kesan bagus ketika ia singgah di toko kita. Kesan bagus ini yang membuat seorang pembeli datang lagi di kemudian hari. Apabila setiap mencari barang yang diperlukan ia datang ke toko kita, maka ini artinya ia sudah menjadi pelanggan kita. Sebaliknya bila seorang pembeli membawa kesan buruk dari toko kita, ia tidak pernah akan kembali lagi. Tidak itu saja, ia segera ‘mempromosikan’ kekecewaannya itu kepada orang lain yang dampaknya lebih dari sepuluh kali lipat dari pada promosi yang postif. Belajar Menggapai Langit menemukan kiat menarik untuk itu.

(more…)

Agustus 29, 2009

SURAT PERJANJIAN KONTRAK RUMAH

Filed under: Sekitar Hukum,Wira Usaha — Mugito Guido @ 4:01 pm

Agar mempunyai kekuatan hukum dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan, sewa rumah untuk suatu usaha tentu memerlukan sebuah Surat Perjanjian. Dengan surat perjanjian sewa / kontrak rumah ini antara penyewa dan yang menyewakan menyepakati apa yang menjadi hak dan kewajiban masing-masing, dan apabila terjadi penyimpangan terhadap isi perjanjian telah disebuatkan konsekuensi hukumnya.  Bagi yang memerlukan Surat Perjanjian tersebut, format ini dapat digunakan tentunya perlu diedit sesuaikan dengan kebutuhan. Belajar Menggapai Langit memberikan contoh berikut.
(more…)

Agustus 25, 2009

Ayo Belajar Bahasa Inggris Pindah Rumah

Filed under: Tips Bahasa Inggris — Mugito Guido @ 6:05 pm

bos pindahSupaya lebih terkonsentrasi, artikel tentang pelajaran Bahasa Inggris ataupun tulisan yang berhubungan dengan itu saya pindahkan ke rumah baru Seputar Bahasa Inggris (http://guidocamp.wordpress.com). Dengan demikian blog Belajar Menggapai Langit ini akan lebih menekankan sebagai tempat latihan menulis artikel yang bertemakan motivasi. Tempat latihan menulis saya dalam Bahasa Inggris bisa juga diikuti di blog lainnya: English Learning Camp (http://englishlearningcamp.blogspot.com).
Mohon maaf blog ini agak lama tidak ter-up date karena di sela-sela kesibukan saya di kantor dan dengan sisa waktu yang sangat terbatas sedang berkosentrasi menulis artikel di English Learning Camp. Semoga bisa cepat kembali mengisi artikel di blog ini lagi.

Terima kasih.
Salam.

Juli 23, 2009

Ayo Belajar Bahasa Inggris (2)

Filed under: Tips Bahasa Inggris — Mugito Guido @ 6:01 pm
Tags: ,

Kali ini kita akan membahas bagaimana mengungkapkan kegiatan kita yang sedang kita lakukan. Misalnya saja saat ini kamu yang sedang membaca tulisan ini ingin mengatakan: ‘Sekarang aku sedang membaca artikel Bahasa Inggris di sebuah website’. Maka, dalam Bahasa Inggris-nya kamu bisa bilang: ‘Now, I am reading an English article in a website’. Kalau kita perhatikan kata kerja (verb) ‘membaca’ yang dalam kamus itu ‘write’, bentuknya kemudian menjadi am + reading. Dalam tata bahasa bentuk kata kerja yang demikian disebut Present Continuous Tense. Mari kita pelajari lebih lanjut tentang bentuk kata kerja dan penggunaan tense ini.
(more…)

Halaman Berikutnya »

The Rubric Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.