Di kalangan dunia pendidikan, tidak ada saat yang paling sibuk selain saat-saat pertengahan tahun. Mengapa? Karena mulai bulan Maret, kelas 6 (SD), kelas 9 (SMP), dan kelas 12 (SLA), sudah sibuk dengan mempersiapkan apa yang kita kenal dengan Unas (Ujian Nasional). Walau pun sempat menjadi pro dan kontra, unas, paling tidak sampai tahun ini, tetap dijadikan sebagai tolok ukur dalam menentukan kelulusan atau keberhasilan belajar siswa. Tidak mengherankan, apabila kesibukan pertama setiap sekolah adalah mempersiapkan siswanya agar lulus unas. Kalau bisa, 100 persen!
Ujian sekolah biasanya dilakukan terlebih dahulu, disusul dengan ujian nasional yang dilaksanakan serentak. Lantas diikuti pengumuman kelulusan. Ada sekolah yang bangga, karena siswanya lulus 100 persen, ada yang merasa cukup puas karena hanya beberapa siswanya yang belum berhasil lulus. Ada juga sekolah yang menangis karena hasil lulusan unasnya jeblok.
Terlepas dari kenyataan bahwa hasil unas selalu disertai dengan berita-berita tentang soal yang bocor, ketidak-jujuran dalam pelaksanaan, atau berita-berita lain yang bersifat miring, saat ini unas sudah selesai. Hasil unas sudah diumumkan oleh sekolah-sekolah dan bisa kita lihat bersama. Dan inilah, secara formal, tolok ukur keberhasilan pendidikan kita.
Lulus bukan berarti perjuangan selesai. Perjuangan selanjutnya adalah untuk mencari sekolah tingkat di atasnya. Bagi siswa yang mempunyai nilai bagus mungkin ini lebih ringan perjuangannya dari pada mereka yang nilainya pas-pasan. Kembali nilai unas berperan di sini. Ada sekolah reguler yang menggunakan nilai unas ini sebagai dasar penerimaan siswa baru, ada juga sekolah SBI/RSBI yang selain nilai unas juga mensyaratkan test potensi akademik. Bagi lulusan kelas 12 (SLA), mereka bersiap untuk bertempur berebut kursi di perguruan tinggi. Pada tahap inilah, siswa menentukan sekolah / perguruan tinggi mana untuk melanjutkan pendidikannya.
Beralih ke masalah perjuangan yang lain. Orang tua sudah tentu mendukung perjuangan anak-anaknya dengan doa agar berhasil. Di sisi lain, mereka juga harus berjuang dalam bidang keuangan sebab tahun baru berarti kebutuhan baru. Terutama orang tua yang anak-anaknya baru saja lulus. Tahun ajaran baru berarti: uang gedung /uang sumbangan baru, uang seragam baru, uang spp baru, uang buku dan peralatan baru, yang kalau dihitung tentu tidak sedikit.
Bagi kelompok orang tua yang berada mungkin memang sudah ada alokasi anggaran pendidikan sehingga tidak perlu pusing-pusing. Atau semuanya sudah diatur dengan asuransi pendidikan bagi anak. Yang selalu bingung memang untuk kalangan ekonomi bawah. Jangankan alokasi untuk pendidikan, untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja alokasinya harian, sedapatnya. Artinya, ya makan sesuai apa yang mereka dapat hari itu. Karena pendidikan bagi anak dianggap segalanya, terpaksa jurus terakhir dipakai: hutang saudara atu menjual apa yang ada.
Konon dari hasil survey, yang menjadi alasan mengapa banyak pasangan suami istri takut mempunyai anak adalah karena ketakutan akan biaya pendidikan bagi anak-anaknya. Kenyataanya memang pendidikan itu tidak murah. Idealnya sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945, memang negara berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsanya dengan menyelenggarakan suatu sistim pendidikan nasional yang murah.
Kapankah itu terlaksana? Kita tunggu saja, semoga!
Oleh:
Mas Guido
gambar: wikipedia


