Belajar Menggapai Langit Blog

Mei 12, 2009

Sekolah Mengelola Ketamakan

Filed under: Motivasi — Mugito Guido @ 3:16 pm

Dunia hukum kita saat ini sedang gonjang-ganjing. Di dalam dunia pewayangan, kalau bumi gonjang-ganjing artinya buminya terguncang-guncang dengan hebat. Digambarkan dalam episode ini, bumi sedang kacau diterpa bencana di mana-mana. Kalau dunia hukum gonjang-ganjing, artinya orang sedang ramai meributkannya. Mengapa diributkan? Tentu karena dunia hukum kita juga sedang dilanda prahara. Mulai dari orang yang cangkrukan di warung kopi, pedagang di pasar, sampai pegawai kantoran dan para boss sibuk menggunjingkannya. Dunia hukum kita sedang membuat berita besar.

Mengapa dunia hukum kita sedang membuat berita besar? Tentu bukan karena Mat Kapli yang dihukum satu tahun gara-gara kedapatan memasuki kandang ayam tetangga, tetapi ayamnya ngikut. Juga bukan karena pejabat yang korupsi tapi dibebaskan gara-gara katanya kurang bukti. Kalau hanya kasus korupsi yang pelakunya tidak kena jerat hukum, itu sudah biasa. Penyebab gonjang-ganjing itu adalah ditetapkannya kepala KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Antasari Azhar tanggal 05 Mei 2009 sebagai tersangka dalam kasus terbunuhnya Nasrudin Zulkarnaen, si boss PT. Putra Rajawali Banjaran.

Lho koq bisa ya? Kan Pak Antasari itu kepala lembaga penegak hukum yang sekarang paling ditakuti. Mengapa penegak hukum kok malah harus dihukum? Kelihatannya ini aneh, tapi keanehan ini sering terjadi. Hanya masalahnya dalam kasus Nasrudini ini pemain utamanya tokoh besar dalam dunia hukum kita. Oh ya, benar kita tidak boleh main tuduh ! Kita harus menghormati asas praduga tak bersalah ! Jadi sebelum ada keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, seseorang belum dapat dinyatakan sebagai bersalah. Tanpa maksud melecehkan asas itu, seperti halnya media cetak atau elektronik yang membuat kasus ini menjadi komoditas bernilai jual tinggi, saya ikut-ikutan nulis ini sekedar menambah serunya gonjang-ganjing itu.

Ya, itulah yang bikin dunia hukum kita lagi gonjang-ganjing. Semua orang heran dan bertanya: kok bisa ya? Mat Kapli mbopong ayam dari kandang tetangga karena memang mungkin ia tidak melek hukum. Mungkin saja karena anaknya, Si Endol, yang belum membayar SPP. Atau karena Si Endol yang belum makan apa pun seharian. Kalau Pak Antasari itu kan sarjana hukum, mantan jaksa, mantan kepala Pengadilan Negeri, mantan kepala Kejasanaan Tinggi, mantan penggede di Kejagung dan terakhir ketua KPK yang membuat keder para koruptor. Kenapa mesti melanggar hukum dan nanti bisa jadi pesakitan hukum? Tentu bukan karena anaknya yang tidak bisa membayar SPP atau tidak makan seharian seperti kasus Mat Kapli.

Nah, gunjang-ganing ini tambah seru karena dalam kasus ini diduga ada kaitannya dengan wanita. Konon kalau sudah menyangkut wanita, apa pun jadi tambah hidup. Dalam tragedi ini bisa saja hal ini berlaku. Ada anggapan kalau wanita kelemahannya ada pada uang, bisa ditaklukkan dengan uang. Asal banyak uang semahal apa pun wanita jadi murah, artinya bisa dikalahkan. Tentu tidak semua, jadi mohon maaf kepada kaum hawa yang tidak termasuk tipe gampang takluk pada uang. Untuk ini tidak ada bukti ilmiah. Nah,sebaliknya kalau kaum pria cara menaklukkannya dengan wanita dan kekuasaan. Konon nafsu yang terbesar pada pria adalah ketamakan akan wanita atau kekuasaan.

Tidak salah juga kalau ada lagu yang menyentil: pria akan berlutut di hadapan wanita. Dari sekedar cerita fiksi maupun kisah nyata dalam sejarah kehidupan manusia, memang rupanya kehancuran martabat penguasa atau pejabat adalah karena wanita maupun kekuasaan. Dalam kisah peperangan raja-raja jaman duhulu, untuk mengalahkan musuhnya yang lebih kuat dipasanglah umpan wanita. Wanita ini bertindak sebagai mata-mata yang pintar bersandiwara untuk mengorek kelemahan musuh. Begitu kelemahan ini didapat, dipukullah musuh dan bahis! Penyebab kedua jatuhnya reputasi seorang pria adalah karena ketamakan akan kekuasaan. Untuk mempertahankan kekuasaannya segala upaya dilakukan, termasuk membunuh. Kalau sudah rebutan kekuasaan, membunuh masal pun kenapa tidak.

Motif pembunuhan Nasrudin belum jelas. Kabar awalnya diduga karena ia tahu banyak tentang perkara korupsi matan boss-nya. Dugaan kedua adalah karena skandal cinta segi tiga dengan seorang caddy girl. Apa pun yang nanti terbukti, barangkali bisa jadi benar anggapan bahwa jatuhanya seorang pria sering karena nafsu serakah akan wanita dan kekuasaan.

Dalam modus pembunuhan ini, diperlukan pula peran pembantu (pembatu sungguhan, bukan stunt man ). Jadi perlu bantuan orang-orang lain untuk melaksanakannya. Selain eksekutor langsung yang menembak, ada juga peran di atasnya yang merekrut eksekutornya, ada juga yang menyusun strategi pelaksanaannya. Kabarnya seorang perwira polisi juga ikut mengatur strategi ini, ambisinya mengincar jabatan tertentu. Maka lengkaplah dalam kasus ini, selain motif pembunuhannya juga para pemainnya.

Kalau nafsu sudah berjibun, maka tidak heran kalau penegak hukum pun bisa dihukum. Kalau nafsu sudah mengedepan, apa pun bisa dilakukan. Sering dalam hidup ini kita lebih mudah menggembalakan ketamakan kita dari pada mengendalikannya. Mungkin baik pula kalau ada yang merintis didirikannya sekolah khusus: Sekolah Mengelola Ketamakan.

Salam.
Masgitocamp – Belajar Menggapai Langit
Camp-nya belajar yang terbaik dalam hidup!

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: