Belajar Menggapai Langit Blog

Mei 19, 2009

Tak Takut Kaya, Tak Takut Miskin

Filed under: Motivasi,Wira Usaha — Mugito Guido @ 9:50 pm
Tags: , , , ,

Elvyn G Masassya seorang praktisi keuangan, mengibaratkan kekayaan itu seumpama kisah perjalanan, yang paling tidak memiliki lima fase yang harus dilalui. Kelima fase itu adalah keinginan menjadi kaya , bagaimana meraih kekayaaan yang diinginkan, bagaimana menjadi lebih kaya, mempertahankan kekayaan dan bagaimana berbagi kekayaan.

Pertama, keinginan menjadi kaya

Apakah anda sekarang ini tidak / belum kaya? Bisa jadi hal ini terjadi karena persepsi yang salah terhadap kekayaan itu. Ada anggapan bahwa kaya tidak menjamin bahagia. Kebahagiaan tidak dapat dibeli dengan kekayaan. Kekayaan tidak akan dibawa ketika kita mati, satu-satunya yang bisa dibawa hanyalah amal. Dan masih banyak anggapan lain yang bernada negatif terhadap kekayaan.

Mungkin saja persepsi-persepsi ini benar , akan tetapi apabila saat ini anda belum kaya bisa jadi itu bukan karena ‘nasib’ seperti yang anda sangka selama ini. Bisa jadi sebenarnya anda ‘bernasib kaya’ tetapi tidak kaya karena persepsi yang salah terhadap kekayaan itu.

Cobalah kita ubah persepsi di atas menjadi positif. Benar kekayaan tidak dapat membeli kebahagiaan, tetapi bila kita kaya kemungkinan bahagia lebih besar. Benar kekayaan tidak dibawa mati, tetapi bila kita kaya bukankah lebih banyak kesempatan untuk berbuat amal untuk bekal mati? Jadi perlu perubahan paradigma terhadap kekayaan ini, dari yang negatif menjadi yang positif.

Apabila anda sekarang belum kaya, marilah kita mimpi kaya. Dengan memimpikan kekayaan, maka pola pikir dan tindakan kita akan mengarah ke usaha-usaha untuk mencapainya. Sebaliknya jika persepsi kita akan kekayaan itu negatif, maka kita akan jauh dari kekayaan itu. Mimpi kaya memang belum tentu membuat kita benar-benar jadi kaya, tetapi jika kita tidak memimpikannya maka sudah pasti kekayaan akan semakin jauh meninggalkan kita. Untuk kaya paling tidak kita berani memimpikannya bukan takut dan menjauhinya.

Kedua, bagaimana meraih kekayaan:

Berani mimpi menjadi kaya, itu sudah modal. Namun bila kaya hanya bermodalkan mimpi, itu hanya si tukang mimpi. Jadi untuk menjadi kaya, langkah kedua adalah bertindak. Menurut resep Pak Tung Desem Waringin, tindakan jadi kaya itu kira-kira begini:

1. Menetapkan tujuan

Tujuan harus dirumuskan dalam kata-kata yang positif, spesifik dan tertulis. Misalnya tujuan kita seperti ini: sudah harus punya rumah type sekian,… luas tanah sekian,… lokasi di X, didapatkan tahun sekian…. Punya mobil BMW type terbaru di tahun 2010…., dan lain-lainnya. Otak bawah sadar kita tidak pernah mengenal kata ‘tidak’ jadi tujuan harus dirumuskan dalam kalimat yang positif. Tujuan juga perlu dirumuskan secara spesifik agar otak bawah sadar kita tidak bingung dalam menerima perintah itu. Sedangkan dengan menuliskan tujuan kita, kita telah membuat mimpi yang masih samar-samar menjadi nyata. Selain manfaat-manfaat itu, tujuan yang tertulis akan menjadi acuan tindakan kita agar tidak melenceng atau salah arah.

2. Meyakini akan mencapai tujuan itu

Bila anda masih mempunyai anggapan bahwa anda tidak bisa kaya, ubahlah persepsi itu. Anda bisa kaya. Kumpulkan alasan-alasan mengapa anda bisa kaya. Misalnya: kalau orang lain bisa kaya, kenapa saya tidak! Saya diberi anugerah berpikir. Tuhan pasti mengabulkan kalau saya minta sungguh-sungguh. Selian itu buatlah semacam motto penyemangat atas keyakinan ini, misalnya: ‘Saya pasti kaya!’ Motto penyemangat bisa ditulis dan ditempel di dalam kamar atau di tempat yang mudah dilihat, sehingga kita terus terpacu semangatnya setiap kali melihatnya.

3. Memaksa diri harus mencapai tujuan itu.

Untuk bisa mencapai tujuan memang harus dipaksa. Kondisikan tujuan yang diimpikan itu bukan sekedar iming-iming, tetapi keharusan. Kalau iming-iming, itu sifatnya motivasi. Kita tahu itu baik, namun kita bisa menentukan pilihan: bisa diambil, bisa tidak. Kalau tujuan sudah dikondisikan sebagai keharusan, maka hanya ada satu pilihan yang tersedia: mencapainya! Bayangkan kenikmatan-kenikmatan apa yang akan didapatkan bila kita mencapai tujuan itu dan rasakan akibat-akibatnya bila tujuan itu tidak dicapai.

Ketiga: menjadi lebih kaya

Banyak batasan tentang kaya. Robert T. Kiyosaki bilang orang kaya adalah orang mempunyai passive income (pendapatan tanpa harus bekerja) lebih besar dari pada biaya hidup. Ada juga batasan bahwa kaya itu bila aset lebih besar dari pada hutang. Aset sendiri bisa berupa aset produktif dan aset tidak produktif. Sederhananya bisa digambarkan sebagai berikut: bila kita memiliki mobil seharga Rp.300 juta dan mobil itu hanya kita pakai untuk kepentingan sehari-hari, maka itu adalah aset tidak produktif. Tetapi kalu mobil itu bisa kita sewakan dan menghasilkan pemasukan maka mobil itu adalah aset produktif.

Mempunyai aset yang besar, bila itu bukan aset yang produktif, belum tentu berarti seseorang itu kaya. Dari contoh sederhana (mobil) di atas, kalau saja pemasukan tidak cukup untuk menutup biaya perawatan mobil, maka bisa berujung mobil dijual karena tidak lagi ada biaya operasionalnya. Jadi, aset tidak produktif besar belum tentu bisa diartikan kaya, karena bisa saja menjadi miskin.
Lain halnya dengan mobil yang disewakan tadi, selain masih bisa dipakai sendiri, mobil itu bisa menghasilkan pemasukan uang yang dapat menutup biaya operasinal dan perawatannya. Bahkan dari selisih uang sewa dan pengeluaran, setelah tiga tahun, bisa dibelikan mobil lagi. Dari aset produktif ini, kaya bisa menjadi bertambah lebih kaya.

Kaya tidak semata-mata diukur dari besarnya asset secara keseluruhan, tetapi dari besarnya aset produktif. Dalam hal kaya ini, ada yang memang benar kaya (aset produktif besar), kelihatan kaya ( aset tidak produktif besar), sok kaya ( aset konsumtif besar). Aset konsumtif yaitu aset tidak produktif yang diperoleh dari hutang).

Keempat: mempertahankan kekayaan

Siapa bilang orang kaya tidak bisa bangkrut? Banyak terjadi orang kaya yang akhirnya bangkrut karena tidak dapat mempertahankan kekayaannya. Mike Tyson yang semula kaya dengan hartanya US$300 juta, tahun 2004 dinyatakan bangkrut dan masih meninggalkan hutang US$ 35 juta. Siapa yang menyangka Amerika Serikat yang menjadi kiblat perekonomian dunia bisa bangkrut gara-gara kredit properti yang macet? Sialnya kebangkrutannya mengajak negara-negara lain untuk ikut bangkrut. Akibat yang ditimbulkan oleh krisis global ini telah menyebabkan banyak perusahaan gulung tikar alias bangkrut. Jadi orang kaya bisa jatuh miskin? Mungkin saja, bila tidak dapat mempertahankan kekayaannya.

Banyak pakar, perencana, praktisi, atau pun konsultan keuangan yang memberikan cara bagaimana kondisi aman secara finansial. Anthony Robin punya 6 tahap kondisi keuangan, yang puncaknya disebut sebagai absolute financial freedom. Seseorang ada dalam kondisi ini bila ia mempunyai investasi yang cukup banyak dan aman yang hasilnya dapat digunaka untuk memenuhi gaya hidup apa pun yang diinginkan. Wuih,,,,! Tung Desem Waringin berpendapat, salah satu cara kaya dengan aman adalah dengan mempunyai peternakan uang, maksudnya ialah kita harus punya investasi yang hasilnya cukup untuk membiayai gaya hidup kita.

Dari beberapa kiat tentang bagaimana kaya dengan aman itu, intinya kita harus selalu memperbesar aset produktif, yaitu aset yang berupa investasi di berbagai bidang. Investasi dalam bidang yang sekiranya sesuai dengan diri kita, bisa mendirikan rumah makan, beli rumah untuk kos-kosan, beli saham yang mengasilkan deviden, reksa dana, atau investasi dalam bentuk lainnya. Jangan malah sebaliknya, yang diperbesar aset konsumtifnya. Besar aset konsumtif artinya tidak kaya, hanya sok kaya. Semakin besar aset konsumtifnya, semakin cepat untuk menjadi miskin.

Kebanyakan dari kita cenderung memperbesar aset konsumtif, apalagi sekarang ini bank lebih lunak dalam menyalurkan kredit. Kalau kita mempunyai kegemaran hutang bank untuk tujuan konsumtif, inilah tandanya kita memperbesar aset konsumtif. Cara gampang untuk menjadi miskin. Kiat untuk tidak terjebak menjadi miskin adalah berhutang hanya bila kita mampu mengubahnya menjadi aset produktif.

Kelima: berbagi kekayaan

Miskin bukan berarti tidak bisa beramal, tetapi bila kaya kesempatan beramal lebih besar.
Nah, berbagi kekayaan adalah salah satu bentuk beramal gaya orang kaya. Lantas bagaimana beramal dengan cara berbagi kekayaan dengan orang lain? Kaya bisa mampunyai dua arti, yaitu kaya harta dan kaya ilmu. Berbagai harta artinya setelah kita menjadi kaya seharusnya kita memikirkan orang lain. Meniru prinsip alir mengalir. Kaya artinya Tuhan sedang memberikan rejeki melimpah kepada kita. Supaya rejeki mengalir lagi, maka kita wajib ‘mengeluarkan’ sebagian rejeki itu kepada sesama yang belum seuntung kita, misalnya dalam bentuk sodaqoh atau bantuan kepada orang yang membutuhkan. Seperti halnya, air kalau tidak ada yang dikeluarkan maka air itu tidak pernah mengalir karena tidak ada bagian lain yang digantikan.

Kaya ilmu artinya kaya rumus-rumus bagaimana menjadi kaya. Jadi bila kita mempunyai resep untuk bisa jadi kaya , apa salahnya memberikan rumus kaya ini kepada orang lain sehingga orang lain juga bisa jadi kaya.

Bila berbagi kekayaan seperti ini bisa dilakukan, maka perumpamaan bahwa ‘akan lebih mudah seekor unta masuk ke dalam lubang jarum dari pada orang kaya masuk surga’, itu hanya berlaku untuk orang yang kaya pelit. Jadi, mengapa harus takut kaya?

Selamat menjadi kaya!

Silahkan kunjungi juga: www.belajarmenggapailangit.blogspot.com atau www.learningthebestlife.blogspot.com – Belajar yang terbaik dalam hidup ini!

1 Komentar »

  1. Mau kaya? Nulis terus……!

    Komentar oleh The Boss — Juni 11, 2009 @ 2:34 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: