Belajar Menggapai Langit Blog

Maret 19, 2013

Nilai Sebuah Kejujuran

Filed under: Motivasi,Umum — Mugito Guido @ 1:22 pm

kaleng blogbintang
Billy Ray Harris kaget melihat ada cincin dalam kaleng tempat uang miliknya. “Pastilah cincin ini asli dan nilainya sangat mahal,” pikir pria tuna wisma di Kansas, Amerika Serikat ini. Billy memang orang miskin, tapi ia memegang nilai kejujuran. Ia menyimpan cincin itu baik-baik.

Keesokan harinya, seorang perempuan bermana Sarah Darling datang ke tempat Billy mangkal. Ia menanyakan kalau-kalau Billy melihat barangnya yang hilang.
‘Apakah itu sebuah cincin?” tanya Billy.
‘Ya,” jawab Sarah.
“Saya masih menyimpannya.”

Sarah tidak menyangka cicin tunangan yang hilang itu akan kembali. Rupanya sebelumnya, ia melepas cincin itu dan menaruhnya di tempat uang koin di rumahnya. Ketika ia memberi Billy beberapa keping uang koin, cincin ikut terambil dan masuk ke dalam kaleng juga.

Sarah sangat senang. Ia menganggap kembalinya cincin itu sebagai sebuah keajaiban. “Ternyata masih banyak orang baik di luar sana,” katanya. Ia kembali memberikan semua uang yang ada dalam dompetnya.Tidak itu saja yang dia lakukan. Sebagai bentuk keharuan, ia membuat sebuah situs untuk menggalang donasi. Hasilnya, 6000 orang mengumpulkan uang sekitar $145.000 atau hampir 1.5 milyar rupiah untuk Billy.

Ketika ditanya mengapa Billy tidak menjual saja cincin mahal itu, ia menjawab, “Kakek saya seorang pendeta. Dia membesarkan saya sejak saya berusia enam bulan. Dan saya masih ingat semua ajarannya.” (Sumber : Kompas.com / The Daily Telegraph)

Ada dua hal yang menarik dari peristiwa ini. Pertama. ‘ternyata masih banyak orang baik di luar sana’ seperti yang dikatakan Sarah Darling. Kedua, pernyataan Billy Ray Harris tentang ‘ajaran agama dari kakeknya yang masih terus ia ingat’ .

Sekarang ini memang semakin sulit menemukan ‘orang baik’ di dunia ini. Dalam konteks ini, diartikan sebagai orang jujur. Setidaknya, itulah anggapan subyektif dari sebagian besar kita.

Hedonisme, sifat ingin hidup enak tanpa bersusah-payah sering mendorong orang untuk mengabaikan kejujuran. Mendapatkan apa yang diinginkan dengan jalan pintas, tak peduli apakah jalan itu baik atau buruk. Menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisinya, tak peduli apakah cara itu telah merampas hak dan kepentingan orang lain atau tidak. Yang penting saya dapat!

Perbuatan tidak jujur bukan hanya semacam korupsi seperti saat ini. Atau, kong kalikong dan nepotisme untuk memperoleh keuntungan pribadi atau kelompok tertentu. Sering bibit-bibit ketidakjujuran itu ada sejak dari keluarga, sekolah dan berlanjut di masyarakat.

Ketika orang tua justru mengajarkan menyontek (meskipun sedikit-sedikit) demi nilai yang bagus, mereka sudah membekali anak dengan ketidakjujuran. Ketika sekolah telah merekayasa cara agar nilai Unas di sekolahnya tidak jeblok, guru telah mengajarkan ketidakjujuran. Ketika masyarakat mengusir keluarga yang melaporkan kecurangan Unas, masyarakat sudah membenarkan ketidakjujuran. Ketidakjujuran/kecurangan bukan sebutir kerikil yang mati, kecurangan adalah sebiji sawi yang akan berkembang oleh pengaruh lingkungan yang mendukungnya.

Lebih parahnya, sering perbuatan tidak jujur itu tidak dilakukan secara pribadi atau segmental. Banyak kecurangan dilakukan secara kolektif dalam sebuah sistem. Tujuannya untuk mengaburkan atau mengkamuflasenya. Sebagian besar korupsi tidak dilakukan seorang diri. Korupsi dilakukan secara kolektif dan sistematis agar tidak mudah orang mengendusnya.

Fenomena di atas setidaknya patut diduga menjadi alasan semakin sulitnya menemukan orang jujur/orang baik.

Billy tidak menyimpan begitu saja ajaran agama yang diterima dari kakeknya. Ia juga tidak sekedar mengingatnya, Lebih dari itu, ia malaksanakannya. Dan ini adalah yang paling penting!

Pendidikan agama pasti mengajarkan sebuah kejujuran, membendung kecurangan. Tapi agama tidak dapat mencegah ketidakjujuran. Yang bisa hanya satu : pelaksanaan ajarannya!

Jadi tidak mengherankan kalau Departemen Agama pernah menduduki ranking pertama dalam hal korupsi. Tidak aneh pula kalau pengadaan Al Quran juga dikorupsi. Mengapa? Karena departemen yang mengurusi keagamaan itu diisi orang-orang beragama tapi hanya sedikit yang mengamalkan ajaran agamanya. Tidak ada bedanya dengan instansi di bawah Departemen Keuangan yang memang mengurusi uang.

Ada pepatah Jawa yang bunyinya, ‘saiki iki jaman edan, nek ora edan ora kemudan. Nanging, sak enak-enake sing edan luwih bejo sing eling lan waspada’. Artinya, ‘sekarang ini jaman edan, kalau tidak ikut edan/gila tidak kebagian. Namun, seuntung apapun mereka yang edan/gila lebih untung
yang tetap sadar dan waspada’.

Yang jujur tidak hidup seenak mereka yang korupsi, tapi yang jujur masih tetap lebih untung dari pada koruptor. Di akhir hidup kita nanti, kita tidak akan membawa segebok uang kepada Tuhan, yang kita bawa hanyalah amal yang telah kita perbuat.

Salam

gambar dari: blogbintang

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: