Belajar Menggapai Langit Blog

April 6, 2013

Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?

Filed under: Umum — Mugito Guido @ 2:28 pm

menulis muhammadnoerTema tentang menulis selalu diangkat ke permukaan. Artinya, setiap hari ada saja tulisan yang mengulas mengenai ilmu menulis. Dari semua itu kalau boleh disimpulkan, memberikan motivasi bahwa selama kita mau, menulis itu tidaklah susah. Penulis kawakan, Arswedo Atmowiloto sendiri membukukan kiat menulisnya, dalam buku  ‘Mengarang Itu Gampang’. Benarkah demikian?

Dalam kenyataannya, ketika kita ingin menuliskan apa yang ada dalam pikiran kita sering merasa tidak gampang. Mungkin saja pada saat kita melihat sesuatu yang membangkitkan ide untuk ditulis,  kita begitu bersemangat. Langsung bergegas mengambil kertas dan pena, menyalakan komputer atau laptop kita dan ingin mulai menulis. Menuliskan ide kita itu agar tidak terlewatkan.

Namun apa yang terjadi saat tangan ini sudah memegang pena atau siap di atas tuts keyboard? Bisa jadi bukanya tangan kita yang menuliskan kata-kata, tapi justru menggaruk-garuk kepala kita padahal kepala kita tidak terasa gatal. Mungkin juga kita akan segera meninggalkan kertas atau mematikan komputer itu tanpa pernah menuliskan sebuah kata apapun. Ataupun, mungin kita hanya mampu menuliskan sebuah paragraf saja dengan begitu banyak coretan di sana-sini. Kalau kita menulis dengan komputer, dalam satu paragraf itu kita sangat sering menekan tombol ‘delete’.

Lantas kita meninggalkan tulisan satu paragraf yang tak sempurna itu sambil pergi dan berguman, “uuuh… ternyata menulis itu tidak gampang”. Ya, siapa bilang menulis itu gampang?

Ya, Arswendo atau pun para penulis yang sudah menelorkan banyak tulisan itu memang bilang bahwa menulis itu gampang. Namun maksudnya barangkali lebih kepada sebuah motivasi, kiat, atau pun ajakan untuk menggalakkan dunia penulisan. Selama kita mau mau terus belajar, menulis itu lama-kelamaan akan menjadi pekerjaan yang mudah. Ini yang perlu digarisbawahi: terus belajar dan melalui sebuah proses! Jadi, tidak ada tehnik menulis yang segampang menggosok lampu Aladin.

Kalau kita punya tepung terigu, gula, garam, soda kue dan beberapa irisan daging di rumah, itu bukan berarti kita memiliki pizza yang lezat. Kita mesti mencampur bahan-bahan itu menurut cara dan takaran tertentu. Selanjutnya kita perlu menyiapkan sebuah oven dan menyalakan kompor dengan mengatur nyala apinya yang tak terlalu besar dan juga tak terlalu kecil. Barulah adonan itu kemudian berubah menjadi pizza yang lezat.

Untuk pizza pertama yang kita buat, hampir dipastikan hasilnya tidak seenak pizza dari Pizza Hut orang Italiano itu. Mungkin saja pizza pertama kita akan terasa keras, keasinan dan sedikit gosong di bagian bawahnya. Kalau kita menyerah sampai di sini, maka selamanya tika tidak lebih dari sekedar pembuat pizza gosong. Sebaliknya, bila kita terus belajar bagaimana membuat pizza yang baik, tidak tertutup kesempatannya pizza kita yang Indonesiano itu akan menggeser pizza Italiano.

Seperti halnya membuat pizza yang enak, menulis pun memerlukan banyak latihan dan memerlukan proses yang panjang . Bukan sebuah sulapan instan.

Ide-ide yang tak terbatas tidak cukup disimpan dalam rak-rak otak kita. Kita perlu mengekspresikan dalam bentuk tulisan. Tulisan yang bukan sekedar sebuah tulisan, tapi tulisan yang mempunyai cita rasa. Tulisan yang bisa dinikmati dan dipahami secara mudah oleh pembaca, sekalipun memberikan manfaat bagi mereka.

Nah, ini yang perlu ilmu dan tehnik. Ilmu dan ketrampilan menulis tidak bisa terlepas dari membaca. Keduanya ibarat dua sisi yang tak terpisahkan yang membentuk selembar uang. Seorang penulis harus mempunyai wawasan yang luas, dan itu hanya dapat diperoleh melalui membaca. Bila kita bermimpi menjadi penulis tetapi malas membaca,  maka kita hanyalah seorang kerdil yang menulis.

Menulis yang baik juga tidak terlepas dari keharusan menguasai bahasa yang baik dan benar. Kepiawaian kita dalam hal kosa kata, mengolah struktur kalimat, ejaan, termasuk gaya bahasanya. Kalau dalam hal membuat pizza, barangkali ini resep yang harus diikutinya.

Itu semua tidak cukup. Ada lagi yang harus dilakukan : banyak latihan!

Sayangnya, saat ini banyak orang yang ingin dijuluki penulis tetapi tidak mau belajar ala orang membuat pizza itu. Maunya jadi penulis tenar namun enggan belajar bagaimana menulis. Tentu saja mereka ini tidak pernah akan bisa menulis hebat.

Lebih memprihatinkan lagi, ada orang yang bermimpi bisa menulis melalui jalan pintas. Tak mau bersusah-susah karena memang menulis itu susah. Yang terjadi kemudian adalah sebuah plagiarisme, menjiplak tulisan orang lain yang diakui sebagai miliknya. Istilah populernya, orang yang melakukan copas, meng-copy dan mem-paste tulisan orang dan dengan bangganya mengakui karya itu sebagai tulisannya.

Nah, plagiat bukanlah seorang penulis. Ia hanyalah seorang anak kecil yang mencuri Italiano pizza dan dengan bangga bilang kepada teman-temannya bahwa ia telah pintar membuat pizza.

Ada teori yang menyarankan agar bisa menulis, tulislah apa saja. Benar, itu tidak salah! Mungkin yang dimaksud tema apa pun bisa tulis. Tujuannya agar kita mempunyai banyak kesempatan untuk belajar. Ya, seperti orang membuat pizza tadi, semakin banyak belajar semakin enak pizza yang kita buat.

Namun demikian, dalam menulis kita tetap harus memperhatikan tehnik bagaimana menulis yang baik. Baik itu dilihat dari segi isi tulisan, tehnis maupun unsur-unsur kebahasaan. Unsur non-tehnis yang juga tak bisa dilupakan adalah pikiran sehat, hati dan budi.

Ada ungkapan, ‘anda adalah apa yang anda tulis’. Kalau boleh diartikan,  tulisan kita merupakan cerminan apa yang kita pikirkan. Kalau pikiran kita jorok, mungkin hasil tulisan kita pornografi. Kalau yang ada alam pikiran kita bagaimana membuat orang sengsara, mungkin juga tulisan-tulisan tak lebih hanyalah serangan-serangan yang membuat orang lain sakit hati. Sebaliknya kalau kita selalu berpikir positif, tulisan kita adalah ekspresi maksud baik kita terhadap sesama.

Menulis juga harus mempunyai tujuan jelas. Menulis demi sebuah kebaikan. Bermanfaat bagi orang lain. Apabila orang lain dapat memperoleh manfaat dari apa yang kita tulis, bukankah itu sebuah amal baik? Satu-satunya yang bisa kita bawa ketika kita mati?

Selamat menulis!

Mr, 05 April 2013

gambar dari : muhammadnoer.com

1 Komentar »

  1. nice sharing.. ^.^
    pandangan orang itu berbeda – beda.. ada yang menganggap menulis itu mudah ada yang tidak..
    tetapi belum tentu orang dapat mengerti bagaimana cara menulis yang baik seperti yang anda katakan tadi..
    So, maybe your post will useful for many people ^.^

    Komentar oleh terjemahan bahasa inggris — Mei 24, 2013 @ 3:38 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: